Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

Selamat datang di blog Forum Bahasa Media Massa (FBMM). Blog ini berisi tulisan-tulisan tentang kebahasaan yang dipakai pada media massa. Sesuai tujuan berdirinya FBMM, blog ini bertujuan untuk menyamakan pemakaian istilah di media massa dan mengajak masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik dan tepat. Blog ini juga terbuka untuk diskusi, tentunya diskusi tentang bahasa Indonesia.



Padanan Kata "Trainee"

Seorang anggota milis guyubbahasa, yang memperkenalkan dirinya sebagai Kadapi atau Dapi, lulusan Editing Unpad tahun 2004, ketika mengirim posting soal topik ini masih kuliah di Ekstensi Fikom Unpad, mempertanyakan soal padanan dari kata trainee.

Ketika awal mengikuti pelatihan calon karyawan PT Pikiran Rakyat Bandung beberapa minggu lalu, saya diberi kartu identitas peserta pelatihan. Di pojok kiri atas kartu itu tertera tulisan "Trainee". Beberapa saat saya memikirkan apa arti kata tersebut. Ya, artinya orang yang mengikuti pelatihan. Setelah itu, saya berpikir lagi adakah padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia?


Berikut diskusi hangat soal kata trainee ini:

Bagaimana dengan kata "magang"? Coba lihat KBBI, hlm. 695.
[Salam,Yovita Hardiwati, Yogyakarta].
Barangkali belum ada, tapi bisa di-ada-kan. Coba saja: TERLATIH. [sal]

Sal,"Terlatih" bagus untuk "trainee", karena "pelatih" untuk "trainer". Dulu, waktu aku ikut pendidikan di Antara pada tahun 1981-82, aku disebut "kursisten" (peserta kursus). Terpikir juga "terkursus", tapi rasanya maksain. Perkara ini bisa diperlebar ke nominee" (terunggulkan, unggulan), "nominator" (pengaju unggulan, pengunggul), dan "nominasi" (pencalonan, pengunggulan). Nah, lihat tuh, jadi aneh kan hasil bentukannya. Saya jadi ingat peringatan Profesor Fatimah dari Universitas Parahyangan dalam Konvensi FBMM yang baru lalu mengenai perlunya apa yang Beliau sebut "gramatika kata" --yang dalam bahasa Arab disebut "sharaf" (sistem pembentukan kata). Anda mau mulai mengutak-ngatik, Sal??? Misalnya: kerja - bekerja - pekerja - pekerjaan - dipekerjakan ... dan seterusnya? Aku juga mulai kotak-katik tapi jembatan keledainya yang bagus belum tertemukan. Bantuin ya. Mas Rikard Bagun juga mengimbau agar FBMM menghasilkan sesuatu yang bisa dijadikan pedoman.

Mari kita bekerja bersama-sama sepertio sewaktu zaman almarhum Pak Suwarno, senior Nuraji di Kompas. Terima kasih banyak. Salam hormat dan kangen senantiasa [Martin Moentadhim SM].

Bahasa Indonesia ini memang bikin pusing. Setiap kali ada kata asing kita mulai kasak kusuk cari padanan yang tepat, apa. Trainee boleh juga disebut "terlatih". Tetapi, awalan "ter" pada kata dasar "latih" cenderung berarti "sudah dilatih".Kata "terlatih" mungkin dapat kita analogikan dengan kata "tergugat", "tersangka", "terdakwa, "terpidana", dan "terhukum" yang dalam istilah pengadilan lebih kurang berarti "(orang) yang telah digugat, disangka, dipidana dan dihukum".Tetapi, kata "trainee' itu --menurut saya-- adalah (orang) yang sedang dalam masa latihan atau peserta latihan, tetapi belum tentu berarti "terlatih" (sudah mempunyai kemampuan karena sudah dilatih).

Rekan kita sebelumnya memberikan padanan "magang". Mungkin juga bisa. Tetapi alih-alih menggunakan "terlatih" saya lebih condong memberi padanan "trainee" dengan kata "LALTIHAN" yang saya analogikan dengan kata "didikan" dan "binaan".

Didik --> mendidik --> pendidik --> didikan (orang yang dididik)

Bina --> membina --> pembina --> binaan (orang yang dibina)

Latih --> melatih --> pelatih --> latihan (orang yang dilatih?)

[Umbu Rey/Antara]

Buat saya, kata "didikan" (terasa) lebih pas. Saya setuju mengenai "terlatih" yang cenderung berarti "sudah dilatih" dan seterusnya. Akan tetapi, jika "orang yang sedang dilatih" disebut "latihan" akan terasa membingungkan karena dalam pelatihan, orang-orang tersebut "latihan" mungkin saja mengerjakan soal-soal latihan. [Rian Dewanto, The Bali Times]

Kata bukanlah baju. Ukuran pas atau tidak pas bukanlah "rasa". Sebaiknya, bila kita mendapati kata asing yang ingin kita indonesiakan, ya Pedoman Pembentukan Istilah yang kita jadikan acuan. Saya setuju dengan pendapat yang mencari terlebih dahulu di KBBI. Mungkin, bisa saja "trainee" kita padankan dengan "magang". Artinya, mungkin saja bahasa Indonesia juga memiliki kata yang sepadan dengan "trainee".

Kalau saja itu tidak cocok, baru cara Mas Martin dan Umbu yang kita lakukan -- gramatika kata(?). (Oh ya Mas, Prof. Fatimah Djajasudarma bukan dari Universitas Parahyangan melainkan dari Universitas Padjadjaran) Cuma..., saya kira tidak ada kata yang cocok dari cara Mas Martin dan Umbu. "Didikan" dan "latihan" bisa bermakna ganda karena bisa juga memiliki arti hasil mendidik dan melatih (analogi pada kata "pimpinan", "masukan", dsb.). Begitu juga untuk "terdidik" atau "terlatih".

Ada lagi cara seperti yang dicontohkan Mas Martin dengan "nominee" yang belakangan sering diserap langsung sebagai "nomine". Nah, mungkin saja, beranalog ke sana kita menyerap langsung "trainee" menjadi "traine".Kesimpulannya, ada dua yang pantas dipasarkan, yakni "magang" dan "traine"... silakan pilih... [Tendy/PR]

Salam,

Hemat sederhana saya juga mengatakan bahwa baik "terlatih" maupun "latihan" kurang pas (karena memiliki arti lain dan oleh karenanya bisa menimbulkan kesalahpahaman).

Kalau "magang" memiliki arti yang kira-kira sama dengan "trainee", maka itu yang paling baik, menurut saya.

Selain itu, usulan terbaik saya kira datang dari yang mengajukan pertanyaannya dari awal, yakni "peserta pelatihan". Bisa juga "peserta kursus". Dan kalau "peserta pelatihan" terasa terlalu rumit dan panjang, bisa saja disingkat sebagai "peserlah". Bunyinya segar dan ringan, hampir seperti jenis burung... :-) Salam musim semi [André Möller, Swedia]

posted by Apollo Lase @ 00:15,

6 Comments:

At 22 Juni 2007 00.12, Blogger yanwardi said...

Saya lebih suka menggunakan kata "latihan" sebagai padanan kata "trainee". Sebenarnya, kata ini sudah ada dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menemukan sekolah stir mobil memakai kata "latihan" untuk mengacu pada orang yang sedang belajar menyetir mobil. Juga, takjarang kita jumpai para peserta magang kerja di sebuah peruhaan menggunakan pin bertuliskan "latihan".

Dalam gramatikalisasi, termasuk dalam paradigma tempa--menempa--tempaan ('yang ditempa atau hasil menempa'), didik--mendidik--didikan ('yang dididik atau hasil mendidik'), dll. Makna gramatikal yang timbul: apakah yang di-ver atau hasil me-ver bergantung pada konteksnya. Jadi, makna yang taksa dapat dihindari.

Dalam ragam tulis, untuk konteks yang bermakna 'yang di-ver', sebagaimana "didik" dan "tempa", harus berkolokasi dengan nominanya, peserta atau murid atau anak.

Akan halnya, "magang" lebih berkelas kata verba (ia sedang magang) dan maknanya lebih menuntut unsur lain, misalnya, ada komponen makna bekerja dan belum tentu dilatih, malah ada yang dapat uang gaji segala.

Salam takzim.

 
At 30 Juni 2007 11.53, Blogger Euis D said...

saya lebih suka gunakan kata latihan juga

 
At 30 Juni 2007 16.49, Blogger Baskara said...

Kita tahu, orang yang sedang belajar bisa disebut pembelajar.

Pemakaian "latihan" atau "terlatih" untuk menggantikan trainee berpotensi menimbulkan kerancuan, karena "latihan" sendiri sering digunakan untuk training.

Saya usul pemakaian kata "pemberlatih" untuk trainee, yang bermakna orang yang sedang (dalam proses) berlatih.

Salam,
wn

 
At 30 Juni 2007 18.37, Blogger Baskara said...

Salam,

Selama ini kita terpaku pada kata dasar latih dan mecari kata bentukannya yang bermakna "orang yang dilatih" sebagai padanan kata trainee.
Baru saja terpikir oleh saya untuk menggunakan kata Indonesia lainnya, yang juga bermakna latih. Salah satu kata yang terpikir adalah geladi yang juga bermakna latih. (Ingat geladi resik)?

Jadi, saya usulkan tergeladi atau tergladi sebagai padanan kata "trainee".

Salam,
Iwan Baskara

 
At 1 Juli 2007 23.26, Blogger yanwardi said...

Mencari padanan dengan kata turunan berdasar bukan "latih" lebih banyak mengundang masalah. Pasalnya, setiap leksem/dasar memiliki kekhasan gramatikal dan leksikal, meski bersinonim.

Secara deskriptif, bentuk "tergeladi" atau "tergladi" tidak dijumpai dalam bahasa Indonesia. Secara intuitif pun, bentuk-bentuk tersebut tidak terterima. Itu dikarenakan bentuk "geladi" hanya bisa berkolokasi (berkomposisi) dengan leksem "resik" dan "kotor".

Geladi (resik/kotor) juga berkelas nomina (Lihat konstruksi "kapan geladi resiknya?", "Besok akan dilakukan geladi kotor".), bukan verba sebagaimana "latih". Jadi, secara gramatikal, tidak mungkin berafiksasi dengan prefiks ter-.


Kata "pembelajar" pernah diperkenalkan oleh Fuad Abdul Hamid dan PWJ Nababan pada "Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya Ke-2, 1988, dalam konteks pengajaran bahasa.

Sangat berbeda konteks tujuan dari pemakaian atau pengangkatan kata tersebut pada waktu itu, yang bila dikemukakan di sini akan menjadi kompleks.

Jika kata "pembelajar" dijadikan acuan pembentukan kata "pemberlatih", saya merasa kurang pas. Proses atau cara melatihnya menjadi "perberlatihan", bukan "pelatihan". Maknanya pun jadi tidak relevan (pasif) dan negatif (ada unsur keterpaksaan dan tidak menyebabkan peserta latihan lebih baik)"membuat orang berlatih". Ini sangat berbeda dengan tujuan pemakaian kata "pembelajar" alih-alih "siswa" (yang bermakna spesifik) dan "pembelajaran" alih-alih "pengajaran" (yang bermakna terlalu aktif pengajarnya, bukan pembelajarnya.)

Dari segi pragmatik, "pemberlatih" sulit dimengerti dan berat. Saya membayangkan para peserta latihan berpin di dadanya dengan tulisan "pemberlatih", dalam suatu "pelatihan".

 
At 4 November 2009 17.50, Anonymous Bahasa, please! said...

biasanya seorang yg berstatus "trainee" selain sedang latihan, dia juga sedang mengalami semacam "masa percobaan" sebelum jadi pegawai tetap, jadi padanan katanya bisa melebar jadi "pra-karyawan" atau jika di instansi pemerintah ada "pra-jabatan" nah... makin bingung kan? tapi pakai kata 'magang' lebih enak bacanya :)

 

Poskan Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home