24 Maret 2010

Ibadat atau Ibadah?

Diambil dari Kompas (Jumat, 23/11/2007) di Rubrik Bahasa Halaman 15.


ADA apalagi dengan judul ini? Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kata bahasa Arab. Salah satu masalah dalam penyerapan kata-kata Arab ke dalam bahasa Indonesia ialah pengalihan aksara Arab ke dalam aksara Latin, karena ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin. Nah, muncul pengalihaksaraan huruf ta aksara Arab ke dalam aksara Latin. Huruf ta yang disebut ta marbutah itu pada akhir kata dialihaksarakan ke huruf latin dengan huruf h dan dengan huruf t. Bagaimana kisah dan sejarahnya kita serahkan kepada para pakar linguistik Arab dan Indonesia.

Yang menjadi masalah bagi pemakai bahasa Indonesia ialah terjadi penggunaan huruf h dan t pada akhir kata serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif. Mari kita perhatikan contoh-contoh berikut ini.

Kita temukan ungkapan jemaah haji dan jemaat Kristen, rumah ibadah dan rumah ibadat, ibadah umroh dan ibadat sabda. Ketika Amien Rais membentuk PAN, saya kira muncul pilihan. Apakah kepada partai itu akan diberi nama Partai Amanah Nasional atau Partai Amanat Nasional? Jika kepada partai itu diberi nama Partai Amanah Nasional, maka partai itu diterima sebagai partai yang eksklusif. Ternyata para pendiri PAN memilih amanat, lalu jadilah Partai Amanat Nasional yang bersifat inklusif. Ternyata, Harian Kompas pun mempunyai judul bawahan Amanat Hati Nurani Rakyat.

Dalam dunia perguruan tinggi yang bersifat badan hukum terdapat sebuah lembaga bernama Majelis Wali Amanah atau Majelis Wali Amanat (WMA). Untuk rasa aman, mungkin redaktur surat kabar lebih sering menuliskan singkatan WMA karena ragu-ragu menuliskan amanah atau amanat. Penulisan ejaan yang bersifat kembar ini tentu membawa berkah atau berkat. Masalahnya adalah soal pilihan yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif.

Penggunaan bahasa Indonesia yang bersifat eksklusif dan inklusif ini juga terjadi pada ucapan salam pembuka dalam seminar dan pertemuan, dan lebih-lebih lagi dalam sambutan-sambutan resmi pemerintah dengan ungkapan “Assalamu’alaikum dan salam sejahtera [dulu lain] bagi kita semua.” Dua ungkapan ini bersifat eksklusif, sepertinya sudah dibakukan dan berterima begitu saja.

Ada sinetron berjudul “Hidayah”. Kata hidayah tak dijumpai di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam edisi kedua KBBI, bentuk hidayah dirujuk kepada hidayat. Ada orang yang bernama Hidayat (laki-laki), tetapi tidak terdapat nama dalam bentuk Hidayah, melainkan dalam bentuk Hidayati.

Ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf h tanpa kembaran dengan t, misalnya mukadimah, musyawarah, majalah, masalah, nafkah, khazanah, dan ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf t, seperti umat, rakyat, istirahat, hakikat, dan beberapa yang lain (baca dan periksa kamus). Akan tetapi terdapat Majelis Permusyawaratan Rakyat dan bukan Majelis Permusyawarahan Rakyat.

Semoga penulisan ta marbutah dengan h dan t tidak mengarah kepada penggunaan yang bersuasana eksklusif dan inklusif. Mari kita musyawarahkan dan bukan musyawaratkan.

JOS DANIEL PARERA, Munsyi

Tidak ada komentar: