Tampilkan postingan dengan label Kolom Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Bahasa. Tampilkan semua postingan

26 Maret 2010

Nuansa Makna

Kompas, Jumat, 26 Maret 2010 | 02:40 WIB

SAMSUDIN BERLIAN

Seluruh dan semua sama artinya, tetapi seluruh itu tunggal, semua jamak. Seluruh rumahku berarti rumahku yang semata wayang itu mulai dari fondasi goyah, dinding rapuh, pintu keriang-keriut, jendela berayap, sampai atap bocor, dari bagian luar kusam dan dalam kosong melompong sampai bagian depan kumuh dan belakang becek lecek. Semua rumahmu berarti rumah-rumah yang bertebaran di mana-mana yang Anda miliki tanpa kecuali, termasuk yang masing-masing ditinggali istri, menantu, dan mertua.

Itu sebabnya lazim kita dengar seluruh Indonesia. Ada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang jarang berprestasi, ada Serikat Pekerja Seluruh Indonesia yang kurang pamor, dan bisa saja anda bikin Ikatan Pemuda Klemar Klemer Seluruh Nusantara tanpa menimbulkan heboh dan rusuh. Namun, mana pernah Anda dengar semua Indonesia?

Cemburu dan iri sama-sama berkenaan dengan suasana hati antagonistik, tetapi obyeknya bertolak belakang. Anda cemburu berarti Anda ingin mempertahankan sesuatu yang Anda miliki. Anda iri atau dengki berarti Anda menginginkan sesuatu yang tidak Anda miliki. Itu sebabnya Anda cemburu ketika preman pinggir jalan memelototi istri Anda yang 10 tahun lebih muda itu, tetapi Anda iri melihat istri saya yang jelita, lemah lembut, kaya raya, dan rajin setia. Tak pernah Anda dengar seseorang mencemburui istri orang lain, kan? Kalau Anda iri terhadap istri sendiri, itu artinya bukan ada laki-laki ganteng sedang merayunya, melainkan dia baru saja diangkat jadi direktris, sedangkan Anda masih disuruh-suruh menyeduh kopi.

Hampir dan nyaris keduanya mengacu pada waktu sebentar lagi. Bedanya, hampir berkenaan dengan segala macam keadaan, sedangkan nyaris hanya dengan keadaan bahaya. Juga, hampir mengacu pada sesuatu baik yang akan ataupun tidak akan terjadi, sedangkan nyaris hanya untuk yang tidak terjadi. Saya bisa berkata, ”Dia sudah hampir lulus sarjana dengan predikat Cuma Paspasan”, ”Danu hampir mati dipukuli suami pacar gelapnya”; pokoknya hampir apa saja. Namun, saya hanya bisa berkata, ”Mantan bintang film guram itu nyaris gagal menjadi wakil rakyat”; tidak bisa, ”Fathuddin nyaris mendapatkan warisan harta karun”. Hampir secara emosional datar dan netral. Nyaris itu seru menegangkan karena dalam keadaan terpepet lolos dari ancaman bahaya.

Mengapa judul artikel ini ”Nuansa Makna”? Nuansa berarti perbedaan halus, seperti perbedaan antara seluruh dan semua, antara iri dan cemburu, antara nyaris dan hampir. Nuansa menjadi populer pada akhir 1970-an ketika lagu ”Nuansa Bening” dari Keenan Nasution menggebrak belantika musik. Tak ada orang tahu apa arti nuansa, tetapi semua orang ingin bergaya memakainya. Maka, dengan sulap bunyi-kata khas pemalas kamus, jadilah nuansa berarti suasana, yang dengan konyol masih dipakai orang di mana-mana dan selama lebih dari 15 tahun. Untung sudah sadar!

Samsudin Berlian Pencari Makna

24 Maret 2010

Sistem Bilangan Besar

Jumat, 27 Februari 2009 | 00:17 WIB http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/27/00174380/Sistem.Bilangan.Besar

ANTON M MOELIONO

Anggaran belanja negara kita tahun ini menembus jumlah seribu triliun. Apakah satuan bilangan triliun merupakan bilangan yang terbesar? Ternyata tidak. Dalam sistem bilangan besar yang kita pakai sekarang di atas triliun (1012), masih ada kuadriliun (1015), kuintiliun (1018), sekstiliun (1021), septiliun (1024) oktiliun (1027), noniliun (1030), dan desiliun (1033). Pangkat 12 bilangan 10 artinya ada 12 nol di belakang angka 1 (satu); 1012 = 1.000.000.000.000.

Sistem di atas dipakai di Amerika Serikat, Rusia, dan Perancis. Terlihat di situ bahwa satuan bilangan besar sesudah triliun itu 1.000 kali lebih besar. Kuadriliun sama dengan 1.000 triliun, kuintiliun sama dengan 1.000 kuadriliun, sekstiliun sama dengan 1.000 kuintiliun, septiliun sama dengan 1.000 sekstiliun, oktiliun sama dengan 1.000 septiliun, noniliun sama dengan 1.000 oktiliun, dan desiliun sama dengan 1.000 noniliun.

Di samping itu ada sistem bilangan besar yang dianut Inggris, Belanda, dan Jerman. Di dalam sistem itu dua satuan bilangan besar di atas seribu adalah seribu kali bilangan sebelumnya. Seribu kali seribu sama dengan miliun, dan seribu miliun sama dengan miliar, yang di dalam sistem Amerika disebut biliun. Namun, satuan bilangan besar sesudah miliar/biliun adalah sejuta kali bilangan sebelumnya. Sejuta biliun/miliar adalah satu triliun (1024). Indonesia, bekas jajahan Belanda, mengikuti sistem yang dianut penjajahnya. Itulah sebabnya mengapa kita memakai miliar dan bukan biliun.

Akan tetapi, pada tahun 1978 terjadi pencampuran dalam sistem bilangan besar kita. Menteri keuangan pada waktu itu, sepulang perundingannya dengan pejabat IMF/Bank Dunia, memperkenalkan bilangan triliun yang senilai dengan bilangan biliun dalam sistem Belanda. Akibatnya, orang Indonesia dewasa ini mengikuti sistem Belanda hingga bilangan miliar, lalu beralih ke sistem Amerika dengan menggunakan nama bilangan triliun, yakni seribu miliar. Padahal, triliun dalam sistem Belanda adalah sejuta miliar. Karena kita sudah telanjur memakai sistem Amerika, maka satuan bilangan besar, yang seribu kali triliun, ialah kuadriliun. Anggaran belanja negara untuk 2009 sudah lebih dari kuadriliun.

Penyerapan nama satuan bilangan besar dari bahasa asing, dengan perubahan nilai, juga terjadi pada masa lampau. Peradaban Hindu dengan bahasa Sanskerta-nya memperkenalkan nama tiga satuan bilangan di atas seribu. Bilangan Sanskerta laksa yang nilai aslinya seratus ribu (105) diserap untuk mengacu ke bilangan 10.000; bilangan keti yang nilai aslinya sepuluh juta diserap dan memperoleh nilai 100.000 dalam bahasa Melayu.

Akhirnya, bilangan ayuta yang di dalam bahasa sumbernya bernilai 10.000 diserap dan kemudian menjadi juta dengan nilai yang dimilikinya sekarang. Numeralia laksa dan keti dalam kesadaran orang masa kini sudah bersifat arkais atau kuno.

ANTON M MOELIONO Munsyi; Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia

Ibadat atau Ibadah?

Diambil dari Kompas (Jumat, 23/11/2007) di Rubrik Bahasa Halaman 15.


ADA apalagi dengan judul ini? Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kata bahasa Arab. Salah satu masalah dalam penyerapan kata-kata Arab ke dalam bahasa Indonesia ialah pengalihan aksara Arab ke dalam aksara Latin, karena ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin. Nah, muncul pengalihaksaraan huruf ta aksara Arab ke dalam aksara Latin. Huruf ta yang disebut ta marbutah itu pada akhir kata dialihaksarakan ke huruf latin dengan huruf h dan dengan huruf t. Bagaimana kisah dan sejarahnya kita serahkan kepada para pakar linguistik Arab dan Indonesia.

Yang menjadi masalah bagi pemakai bahasa Indonesia ialah terjadi penggunaan huruf h dan t pada akhir kata serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif. Mari kita perhatikan contoh-contoh berikut ini.

Kita temukan ungkapan jemaah haji dan jemaat Kristen, rumah ibadah dan rumah ibadat, ibadah umroh dan ibadat sabda. Ketika Amien Rais membentuk PAN, saya kira muncul pilihan. Apakah kepada partai itu akan diberi nama Partai Amanah Nasional atau Partai Amanat Nasional? Jika kepada partai itu diberi nama Partai Amanah Nasional, maka partai itu diterima sebagai partai yang eksklusif. Ternyata para pendiri PAN memilih amanat, lalu jadilah Partai Amanat Nasional yang bersifat inklusif. Ternyata, Harian Kompas pun mempunyai judul bawahan Amanat Hati Nurani Rakyat.

Dalam dunia perguruan tinggi yang bersifat badan hukum terdapat sebuah lembaga bernama Majelis Wali Amanah atau Majelis Wali Amanat (WMA). Untuk rasa aman, mungkin redaktur surat kabar lebih sering menuliskan singkatan WMA karena ragu-ragu menuliskan amanah atau amanat. Penulisan ejaan yang bersifat kembar ini tentu membawa berkah atau berkat. Masalahnya adalah soal pilihan yang cenderung bersifat eksklusif dan inklusif.

Penggunaan bahasa Indonesia yang bersifat eksklusif dan inklusif ini juga terjadi pada ucapan salam pembuka dalam seminar dan pertemuan, dan lebih-lebih lagi dalam sambutan-sambutan resmi pemerintah dengan ungkapan “Assalamu’alaikum dan salam sejahtera [dulu lain] bagi kita semua.” Dua ungkapan ini bersifat eksklusif, sepertinya sudah dibakukan dan berterima begitu saja.

Ada sinetron berjudul “Hidayah”. Kata hidayah tak dijumpai di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam edisi kedua KBBI, bentuk hidayah dirujuk kepada hidayat. Ada orang yang bernama Hidayat (laki-laki), tetapi tidak terdapat nama dalam bentuk Hidayah, melainkan dalam bentuk Hidayati.

Ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf h tanpa kembaran dengan t, misalnya mukadimah, musyawarah, majalah, masalah, nafkah, khazanah, dan ta marbutah yang tetap dituliskan dengan huruf t, seperti umat, rakyat, istirahat, hakikat, dan beberapa yang lain (baca dan periksa kamus). Akan tetapi terdapat Majelis Permusyawaratan Rakyat dan bukan Majelis Permusyawarahan Rakyat.

Semoga penulisan ta marbutah dengan h dan t tidak mengarah kepada penggunaan yang bersuasana eksklusif dan inklusif. Mari kita musyawarahkan dan bukan musyawaratkan.

JOS DANIEL PARERA, Munsyi